Selasa, 20 Desember 2011

10 Perubahan Trend Teknologi 2012

Tahun 2011 menandai sejumlah "pergeseran". Event sekelas Consumer Electronics Show di Las Vegas Januari lalu telah  mengirim sinyal perubahan, yang kemudian diteruskan pameran sejenis di Eropa (Bonn) maupun Asia Tenggara (Singapura), akan menjadi tolok ukur trend teknologi untuk tahun 2012.
Sejumlah lembaga riset pasar juga menenggarai  bagaimana produk baru hadir sebagai kompetitor potensial, bahkan lanjut menggantikan pemimpin pasar sebelumnya.
Supaya ringkas dan sederhana, berikut kami pilihkan beberapa arus perubahan trend dalam sebuah ilustrasi terkenal kisah David sebagai sang penantang dan Goliath sebagai yang diunggulkan.


iPad vs Kindle Fire


Genap dua tahun iPad hadir di tengah konsumen dan masih menjadi Tablet paling populer. Statistik penjualan Apple menunjukkan angka 40 juta unit sejak pembukuan April 2010, sementara para pesaingnya harus bongkar pasang strategi pemasaran dengan tambahan berbagai fasilitas dan aplikasi.
Hingga Oktober tahun ini, Amazon dengan berani meluncurkan Kindle Fire, sebuah Tablet berkapasitas 8GB, dan difokuskan untuk menjelajahi literatur (e-books) di dunia maya. Harganya? Yeap, cuma $199!
Kindle Fire akan dikirim ke berbagai negara mulai 15 November 2011 dan diprediksi sanggup mengalahkan iPad dari segi angka penjualan dan popularitas, karena kalau berdasarkan spec nya jelas sangat jauh berbeda.


Tablet  vs Laptop


Ada yang menyebut sekarang adalah masa "post-PC", artinya kita tidak lagi berinteraksi terpaku di depan sebuah monitor dan CPU terpisah, melainkan menjinjing laptop. Tapi, ibarat seumur jagung, booming laptop agaknya mulai beralih dengan munculnya Tablet PC. Akankah laptop begitu saja terpinggirkan oleh kehadiran device yang lebih praktis dan multifungsi? Hasil riset International Data Group memproyeksikan penjualan laptop tahun 2012 masih akan stabil, bahkan mengalami kenaikan tipis sekitar 11%.

Keyboard vs Voice Controls


Hampir 150 tahun yang lalu, dunia modern mengenal mesin ketik. Di era komputerisasi, perannya praktis tergantikan oleh keyboard sebagai input device ke PC. Dan, katakanlah ada puluhan vendor menjadi pemain di segmen peripheral ini. Lantas bagaimana ketika Google dan Apple memperkenalkan sistem input berbasis perintah suara (voice-based)?
Kini para pengguna Android berkenalan dengan Voice Actions sementara pemilik iPhone 4S dengar-dengar semakin "mesra" dengan Siri.
Bukan hanya di platform device, Google juga coba bereksperimen untuk mengintegrasikan Voice Action pada aplikasi browser mereka: Google Chrome. Harus diakui, teknologi ini belum sepenuhnya sempurna (dan mungkin juga kita sebagai pengguna belum terbiasa. Walau bagaimanapun, teknologi perintah suara sudah semakin membumi.


Spotify vs  iTunes


Musik bagian dari hidup. Apple iTunes telah merevolusi industri musik di tahun 2003 dengan menyediakan lagu-lagu yang bisa didownload dengan harga relatif murah.
Oke, di internet kita memang bisa mencari dan mendownload lagu-lagu yang diinginkan (via mediashare etc). Di tengah hilir-mudiknya hits single terbaru, Spotify (dan sejumlah portal layanan music subscription) mulai "merongrong" kedudukan iTunes dengan memberi akses ke "gudang" atau perpustakaan lagu, yang tidak perlu dibeli atau dimiliki, karena pengguna cuma butuh koneksi untuk streaming. Jadi, konsepnya mungkin lebih memudahkan kedua pihak; antara pengguna yang ingin mendengarkan lagu tersebut dan penyedia layanan memberikan akses, sekaligus meraih user tentunya.
Spotify mengklaim saat ini telah diakses lebih dari 10 juta ID user aktif, dimana 2 juta ID di antaranya memilih opsi berlangganan. Dari layanan subscribe (berlangganan) inilah Spotify berharap terus mengalirkan pundi-pundi dollar. Musik untuk semua?? Yes!


BlackBerry vs iOS, Android, dan Windows Phone 7


Di awal 2010, RIM BlackBerry  menjadi smartphone paling populer di kawasan Amerika Utara (NA). Tapi belakangan ini, RIM seakan tak kuasa menghadapi besarnya "bayang-bayang" berbagai operating system lain di platform mobile : iOS (Apple), Android  dan yang teranyar Windows 7. RIM lantas berbenah dan langsung bermanuver dengan meng-uprgade operating system menjadi BBXOS.
Pada acara tahunan Blackberry di bulan Oktober lalu, para engineer RIM membocorkan kemungkinan penggunaan Android pada smartphone mereka. RIM yang berjaya sebagai perintis smartphone kini dalam posisi terjepit oleh 3 OS lainnya. Belum lagi jika di tahun 2014 nanti, Linux siap terjun meramaikan pasar smartphone. 


Flash vs HTML 5


Adobe Flash sebagai platform pemutar video di internet tampaknya tak lama lagi bakal tergantikan HTML 5. Dan siapakah yang dengan "jumawa" memulai revolusi ini? Yeap! Apple mensterilkan fitur flash dari setiap produk device iOS. Langkah serupa juga diikuti Microsoft, yang meniadakan Flash plug-ins pada browser seri terbaru mereka IE 10, yang disediakan untuk Windows 8.

HDD vs SSD

Solid-state drives (SSDs) semakin jadi pilihan kebutuhan penyimpanan data (storage) di mobile device, juga laptop. Ukurannya yang mini dengan kapasitas luar biasa, membuat seri Intel Ultrabook dan Apple MacBook Air terlihat ramping. Sistem booting SSD berjalan cepat karena tidak mempengaruhi komponen moving parts, yang diyakini membuatnya lebih tangguh dibanding HDD.


Flickr  vs Instagram


Berapa banyak di antara kalian yang sudah mengunggah (upload) foto melalui Flickr? Situs ini cukup ramah bagi para user dan jaringannya pun didukung sistem yang komprehensif hingga tak heran jumlah usernya sudah mencapai 51 juta akun ID. Di sisi lain, para pengguna iPhone baru saja "berbulan madu" dengan kamera ciamik pada iPhone4 yang dilengkapi fitur share melalui app Instagram.
Sebagai perbandingan, Instagram meraih 9 juta user dalam waktu sepuluh bulan (dan lebih dari 150 juta foto terupload), sementara Flickr selama 2 tahun baru membagikan 100 juta file foto. Bukan hanya itu, pengelola Flickr tambah harap-harap cemas karena situs indk mereka, Yahoo, juga hendak bersinergi untuk meluncurkan app berbasis Android untuk menyaingi Instagram.


Facebook vs Google+


Friendster sebagai pionir jejaring sosial bermetamorfosis menjadi portal game, sedangkan "sang penerus" Facebook justru menjadi platform bagi game-game browser. Di sinilah persimpangan itu. Tak ada hujan, tak ada badai, tiba-tiba Google berinisiatif menciptakan platform jejaring sosial bernama Google+. Lawan yang cukup tangguh bagi Facebook, mengingat kapasitas user yang sudah menggunakan berbagai aplikasi Google bisa sangat diperhitungkan.
Mampukah Google+ menggoyahkan kemapanan Facebook (?) yang menyentuh angka 800 juta user di seluruh dunia (dengan jumlah terbesar di negara-negara maju seperti AS, Inggris dan Eropa)?
Google jelas pantang mundur. Dan 40 juta akun user kini bisa saling berbagi dengan fitur-fitur khas dan semakin "personal" untuk menularkan "plus" satu sama lain. Hei, mengapa keduanya tidak bergabung saja menjadi Facebook (+) plus ??


Mobile Web vs Traditional Web


Lagi-lagi hasil riset IDC (Internet Data Centre) jadi acuan dengan memproyeksikan bahwa di tahun 2015 mendatang mayoritas warga AS akan mengakses internet via mobile device ketimbang PC.
Yup! Lupakan monitor, mouse,keybord dan CPU. Di masa depan, performa smartphone (dan tentunya juga Tablet) akan semakin ideal mengakselerasikan content website dari internet.
Pemakaian internet bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan kebutuhan yang menyatu dalam ritme aktivitas.Ketersediaan mobile device secara massal (dan harga yang relatif kian terjangkau) akan mengubah pola dan gaya hidup kita.

Perang Besar Teknologi Di Tahun 2012

Ada paparan menarik dari kolumnis FastCompany Farhad Manjoo bagaimana tahun 2012 bakal menjadi perang besar teknologi. Apple, Facebook, Google, Amazon, diklaim bakal menjadi aktor "perang" dalam inovasi masa depan. Tulisan berikut sebagian besar merupakan saduran dari paparan Farhad Manjoo.
Di awal tulisannya, Farhad menyebut Gilbert Wong, Walikota Cupertino. Suatu saat, Wong memanggil dewan kota  untuk sebuah pertemuan dengan CEO Apple saat itu, mendiang Steve Jobs.  Wong mengatakan, "Seperti yang Anda ketahui, Cupertino sangat terkenal untuk Komputer Apple. Dan kami merasa sangat terhormat karena Steve Jobs mau memberikan presentasinya  di sini."
"Apple tumbuh seperti rumput liar," kata Jobs membuka presentasinya dengan suara tenang dan kadang gemetaran. Jobs, saat itu, mengungkapkan niatnya membangun kampus raksasa baru dari tanah yang ia peroleh dari Hewlett-Packard tahun 2010. Kampus futuristik  ini akan menjadi rumah dari 12.000 karyawan Apple. Tak ada yang tahu pada saat itu, 7 Juni 2011, merupakan penampilan terakhir Jobs di publik sebelum pengunduran dirinya sebagai CEO Agustus silam dan mangkatnya di awal Oktober lalu. Dan, bangunan futuristik yang direncanakan selesai  tahun 2015 ini akan menandai "perang teknologi" di Lembah Silikon makin sengit.
Empat perusahaan Amerika Serikat akan menandaskan bahwa abad ke-21 sebagai era perang teknologi informasi. Selama dua tahun ke depan, Amazon, Apple, Facebook, dan Google  bakal bertarung sengit di pasar ponsel dan tablet, termasuk aplikasi mobile, jejaring sosial, dan sebagainya. Kompetisi akan makin ketat. Masing-masing perusahaan telah menunjukkan keunggulan bersaingnya, strategi jeniusnya, dan proses eksekusi yang luar biasa.
Pertumbuhan perusahaan tersebut tidak membutuhkan waktu yang pendek. Semua serba cepat. Apple membuat produk elektronik konsumen. Google menggenjot mesin pecarinya. Amazon membangun toko onlinenya, dan Facebook membangun jejaring sosialnya. Dan kesannya, hal tersebut sudah kuno. Semua sudah berinovasi dengan cepat.
Jeff Bezos, misalnya. Bezos dengan menggunakan teknologi komputasi awan, telah mendorong Amazon tidak sekadar toko online. Bezos menciptakan Kindle Fire, sebuah tablet yang digadang-gadang bakal sukses melawan supremasi tablet yang selama ini dikuasai Apple. Amazon hampir meraih dua kali pendapatan tahunan sebesar USD 34 miliar dan diperkirakan oleh para analis bakal naik menjadi USD 100 miliar pada tahun 2015.
Google pun berkembang dari katalog informasi menjadi jejaring sosial yang melenggang optimitis menandingi Facebook. CEO Larry Page meluncurkan Google+ untuk menatang Facebook dan menyiapkan kekuatan dengan mengakuisisi Motorola Mobility sebesar USD 12,5 miliar untk menghadapi Apple.  Google juga mengembangkan YouTube sebagai bagian dari media pemasaran yang diklaim telah membawa lebih dari USD 30 miliar tahun ini, jumlah yang hampir dua kali bila dibanding pendapatan iklan ini tahun 2007.
Facebook sekarang ini telah berevolusi bukan sekadar jejaring sosial. Facebook menjadi media pengubah pola komunikasi masyarkat terluas secara global. Facebook mengubah cara orang membaca berita, mencari informasi, menonton televisi, menikmati film, mendengarkan musik, dan sebagainya. Media ini pun menjadi alat mumpuni pemasaran yang baru.
Amazon, Apple, Facebook, dan Google tidak mengenal batas-batas  untuk mengembangkan teknologi ritel, periklanan, penerbitan, film, TV, dan keuangan. Keempat perusahaan inilah yang diklaim meraja inovasi teknologi mutakhir. Keempatnya bakal menjadi para petarung mumpuni di era "perang" inovasi sekarang ini.
Masing-masing perusahaan mempunyai formula rahasia yang suatu saat akan dikeluarkan dalam bentuk produk yang membuat banyak orang tercengang sebagai sebuah inovasi baru. Masing-masing akan berupaya untuk meneliti, mendigitalkan, dan merevolusi setiap sudut kehidupan kita. Keempatnya mempunyai visi inovatif yang besar. Namun, keempatnya tergantung pada tiga ide yang saling terkait.
Pertama, setiap perusahaan telah merengkuh teknologi pasca PC yang kemudian terwujud dalam bentuk tablet, ponsel pintar, dan sebagainya. Masing-masing perusahaan telah diuntungkan dari inovasi mobile tersebut, bahkan dalam skala luar biasa, baik dalam pendapatan, cadangan kas, dan kapitalisasi pasar.
Kedua, fungsi dan fakta perangkat pasca PC telah mendorong sekaligus memfasilitasi peningkatan konsumsi. Jadi, masing-masing perusahaan tersebut akan memperdalam upaya mereka untuk servis terkait dengan media, seperti buku, musik, film, tayangan TV, games, dan apa pun yang bisa memenuhi kebutuhan orang di saat sendiri maupun saat bersosialisasi dengan apa pun dan siapa pun.
Namun, upaya ini tidak hanya sebatas pada media digital. Mereka akan mengupayakan agar proses konsumsi bisa lebih mudah. Kindle seharga USD 79, misalnya, bukan sekadar alat baca, namun terintegrasi dengan penawaran produk Amazon lokal. Kindle Fire akan ditemani oleh tablet dengan desain ulang dari Amazon yang memudahkan orang untuk membeli produk-produk fisik yang dijual perusahaan, dari makanan hewan sampai mesin pemotong rumput. Prinsipnya, di mana pun dan kapan pun orang online, mereka ingin berada di sana untuk siap membantu dalam proses transaksi.
Semua aktivitas orang dengan perangkat tersebut akan menghasilkan banyak data yang mendukung ide ketiga yang mendukung visi bisnis mereka. Data seperti susu ibu bagi Amazon, Apple, Facebook, dan Google. Data ini tidak hanya  menjadi bahan bakar baru dan lebih baik bagi sistem periklanan baru (yang mana Google dan Facebook sangat tergantung pada data tersebut), melainkan akan menjadi insight lebih baik pada apa yang akan orang beli di kemudian hari (seperti yang Amazon dan Apple ingin tahu).
Data akan menjadi kekuatan untuk inovasi baru.  Misalnya, sustem pengenalan suara Google, peta lalu lintas, maupun pelacakan pelanggan anonim, dan sebagainya.
Ketiga ide di atas saling terkait dan mendukung. Di era pasca PC, perangkat sangat erat dengan pengguna individu. Coba pikirkan: kita mungkin mempunyai sebuah komputer untuk keluarga, tapi tidak dengan Kindle. ebook Amazon terkait dengan akun personal dan bisa dibaca oleh hanya satu orang dalam satu kali waktu baca. Hal yang sama terjadi pada telepon dan aplikasi.
Keempat rakasasa teknologi tersebut akan bertarung dalam ranah di atas. Mereka cukup berambisi. Meski bertanding dalam wilayah seluas Lembah Silikon, tapi peperangan nyata mereka terjadi di pasar seluas dunia.